Beranda daerah Anggota Fraksi Hanura Pertanyakan Sebutan Bupati Kedua

Anggota Fraksi Hanura Pertanyakan Sebutan Bupati Kedua

0
291

KIBLATNTT.COM, BAA — Anggota Fraksi Hanura DPRD Kabupaten Rote Ndao, Feky Boelan mempertanyakan sapaan bupati kedua yang dialamatkan pembawa acara pada acara gladi pelantikan pimpinan definitif DPRD Kabupaten Rote Ndao di ruang sidang paripurna DPRD Kabupaten Rote Ndao, Senin (4/11/2019).

Sebelum hari pelantikan, tiga pimpinan DPRD dan beberapa anggota mengikuti gladi bersih yang diselenggarakan di Ruang Paripurna DPRD Rote Ndao Senin (4/11/2019) siang. Pantauan media ini, suasana Geladi Bersih dipimpin langsung oleh Ketua Pengadilan Negeri Rote Ndao Beauty D.E. Simatauw, S.H.,M.H

Suasana Geladi awalnya berlangsung baik, namun saat Akir acara Gladi Anggota Fraksi Hanura DPRD Rote Ndao Fecky Boelan menyampaikan Protes kepada Master of Ceremony (MC) yang menyapa Mantan Bupati Rote Ndao dengan sebutan bupati kedua.

Feky mempertanyakan siapa yang disebut dengan bupati Kedua tersebut, karena yang ia tahu selama ini hanya ada sebutan bupati bagi orang yang saat ini jadi Pemimpin dan sebutan mantan bupati bagi orang yang telah selesai masa tugasnya sebagai pemimpin di sebuah daerah.

Baca Juga :  Divonis Bersalah, Nasib AOM Segera Ditentukan

“Apa-apaan ini, siapa lagi yang bupati kedua itu, ini ruangan terhormat, bukan tempat orang gila hormat disini,” Kata Fecky.

Fecky juga meminta agar pembawa acara pada saat kegiatan Selasa (5/11/2019) tidak boleh ada lagi sebutan bupati kedua, sebaiknya dipanggil saja dengan sebutan mantan bupati atau ketua TP PKK.

Sekretaris Daerah Kabupaten Rote Ndao, M. Selly hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan, wartawan media ini berusaha menghubunginya melalui WhatsApp terkait dengan rujukan aturan dalam menyapa Mantan Bupati Rote Ndao sebagai Bupati Kedua, namun belum ada jawaban dari Sekretaris Daerah tersebut.(*)

(Berita ini sudah tayang di newskpk.com dengan Judul Sebutan Bupati Kedua Rote Ndao Tuai Protes)

Comments

comments