Ini 50 Desa di SBD Yang Darurat Kekeringan Air Bersih‎

1
8096

Tambolaka — Kekeringan di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menjadi kendala yang harus di perhatikan Pemerintah Daerah (Pemda) dalam mengantisipasi bencana kekeringan ini. Pasalnya masyarakat di sejumlah wilayah pedesaan sangat kesulitan untuK mendapatkan air bersih.

Melihat akan adanya bencana kekeringan yang berkepanjangan di SBD, Bupati Markus Dairo Talu mengeluarkan surat keputusan Bupati tentang Status Siaga Darurat Penanggulangan Bencana Kekeringan Air Bersih di SBD dengan Nomor : 382/KEP/HK/2017 pada tanggal 05 Juli 2017, yang terlampir 50 nama desa di SBD yang masuk dalam kategori mangalami bencana kekeringan air bersih. 

Ke 50 desa yang tergolong mengalami bencana kekeringan itu diantaranya Desa Totoka, Desa Bondo Boghila, Desa Letekonda, Desa Karuni, Desa Letekonda Selatan, Desa Weepangali, Desa Pogotena, Desa Loko Kalada, Desa Payola Umbu, Desa Kalembu Kaha, Kelurahan Langga Lero, Kelurahan Weetebula, Desa Marokota, Desa Watu Labara, Desa Reda Pada, Desa  Gollu Sapi, Desa Welimma, Desa Tema Tana, Desa Lete Kamouna, Desa Kadi Wanno, Desa Maliti Ndari, Desa Wanno Talla, Desa Djela Manu, Desa Denduka, Desa Delo, Desa Rita Baru, Desa Wee Wulla, We Wella, Desa Moro Manduyo, Desa Billa Cenge, Desa Kedu Wella, Desa Limbu Kembe, Desa Pero Batang, Desa Pero Konda, Desa Pero Batang, Desa Homba Rica, Desa Homba Rande, Desa Umbu Ngedo, Desa Mata Kapore, Desa Waikaninyo, Desa Ana Goka, Desa Wailangira, Desa Panenggo Ede, Desa Waimaringi, Desa Wainyapu, Desa Karang Indah, Desa Tana Mete, Desa Kahale, Desa Waikarara, Rada Malando, dan Desa Waimahaka.

Selain itu, masyarakat yang mengalami bencana kekeringan mengkomsumsi air dari hasil jualan tangki. Rata-rata harga satu tangki air mencapai ratusan ribu rupiah. Ironisnya, masyarakat yang membeli air dari tangki itu tidak berpenghasilan tetap setiap bulannya. Karenanya Pemerintah Daerah di tuntut untuk bekerja keras dan berperan aktif untuk mengentaskan bencana kekeringan yang melanda masyarakat di 50 Desa tersebut. 

Baca Juga :  Data KPK, Bacabup Paulina Haning Terkaya

Erni, warga desa Ramadana Kecamatan Loura mengatakan saban hari dirinya membawa dua jerigen untuk pergi mengambil air di satu sumber air yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. 

“Disini sumber air hanya itu saja dan sangat kecil, namun mau tidak mau saya harus pergi ambil. Jaraknya sekitar dua kilometer. Air ini untuk kebutuhan masak dan minum di rumah,”ungkapnya. ‎

Sementara Warga Desa Lete Konda Selatan, Frans Paila Ngongo mengatakan mayoritas masyarakat di Desa Lete Konda Selatan mengkomsumsi air dari jualan tangki. “Kami masyarakat tiap minggu bahkan tiap hari beli air tangki. Contohnya saya ini, apa lagi baru-baru rumah saya baru terbakar, saya beli air di tangki untuk isi drum saya. Coba pak bayangkan, setiap hari harus beli air, berapa biaya yang harus dikeluarkan,”ungkapnya. (red)

Comments

comments