Inspektorat Diminta Lakukan Audit Proyek Swakelola SD Inpres Satap Gokata

0
837

Tambolaka — Sejumlah warga yang tidak merasa puas dengan kinerja Kepala Sekolah SD Inpres Satap Gokata, Fransiskus Bobo Ngongo mengancam akan turunkan Badan Inspektorat Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) melakukan audit terhadap proyek swakelola SD Inpres Satap Gokata yang di nilai cacat hukum.

“Kami masyarakat yang berada di lingkup sekolah ini merasa ada kecurangan dalam proses pengerjaan. Besi yang seharusnya di dalam RAB ukuran 12 di ganti menggunakan besi ukuran 10. Begitu pula dengan kuda-kuda bangunan, yang seharusnya balok berukuran 8/12 di ganti menggunakan balok 6/12. Bukan hanya itu saja, letak posisi mes guru yang di bangun seharusnya berada di bagian timur di pindahkan di bagian selatan yang tidak terdapat di dalam gambar. Kami nilai Kepala Sekolah bekerja tidak sesuai dengan gambar yang ada. Ini curang, sehingga kami masyarakat meminta pihak berwenang seperti Badan Inspektorat turun lakukan audit. Bila perlu Kejaksaan harus turun juga, sebab ini adalah uang negara yang di pakai,” ungkap Gusti Loba warga Kampung Pateruwanne, Desa Ramadana, Kecamatan Loura, Senin (15/10/2018).

Baca Juga :  10 Kapal Nelayan di Pantai Katewel Hancur Diterjang Gelombang Pasang

Persoalan proyek swakelola SD Inpres Satap Gokata semakin terkuak adanya manipulasi beberapa item pekerjaan lantaran pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) turun kelapangan guna memastikan persoalan yang terjadi. Pihak dinas pun mengakui adanya permainan dari Kepala Sekolah yang mengurangi item pekerjaan dan bekerja tidak sesuai dengan gambar.

“Kepala Sekolah sudah mengakui adanya kekeliruan dalam proses bekerja. Nantinya, kekurangan dari item pekerjaan tidak akan lari jauh dari jumlah anggaran mes guru 138 juta. Tidak ada pengurangan dan tidak ada kelebihan volume pekerjaan. Adapun yang sudah terlanjur di kerjakan saat ini, akan di hitung jumlah pengeluarannya dan kelebihan itu akan alokasikan ke tempat lain seperti mebeller sehingga tidak ada kecurigaan masyarakat adanya permainan anggaran,” jelas Kabid Sarana dan Prasarana Dinas P dan K, Oktavianus Dappa Malo di ruang kerja Kepsek Satap Gokata, Selasa (9/10/2018) siang.

Namun, keesokan harinya Rabu (10/10/2018) Kabid Sarana dan Prasarana kembali memerintahkan Kepsek Satap Gokata Fransiskus Bobo Ngongo untuk menggusur pembangunan mes guru ukuran 6 x 6 yang telah menelan anggaran kurang lebih Rp. 20 juta dari total anggaran 138 juta.

Baca Juga :  Kadis PMD : Dana Desa Bukan Anggaran Pribadi Kades

“Pak Kabid perintahkan saya harus bongkar ulang gedung mes itu yang sudah di bangun rata tembok. Saya memang akui bersalah dan akibat keteledoran saya ini, saya siap pertanggungjawabkan anggaran pembangunan mes saat ini sebesar Rp. 20.000.000,- dan gaji tukang sebesar Rp. 19.000.000,-. Saya akan bongkar sesuai perintah dinas tapi tidak dalam waktu singkat. Saya juga siap diproses jika sungguh dianggap fatal karena urat slop bawahnya digunakan tiga urat dan letak gedung mes yang tidak sesuai gambar,” ungkap Frans.

Mirisnya, Kepala Sekolah Fransiskus Bobo Ngongo bertemu dengan Ketua Komite Samuel Geli meminta agar ketimpangan yang telah tercium oleh publik di tarik dengan catatan dapat dilanjutkan proses pengerjaan.

“Ini Kepala Sekolah macam datang jaga rumah saya minta agar masalah ini di tarik, kita atur damai saja. Jadi saya bilang kenapa datang di saya, saya tidak ada permasalahan. Saya sempat keberatan sebab semua orang sudah tahu persoalan sekolah ini, saya tidak mau bertanggungjawab dan saya tidak mau masuk penjara. Dia juga minta agar berita yang sudah terpublikasikan di hapus. Saya bilang itu bukan urusan saya, kalau soal berita silahkan berurusan dengan wartawan yang bersangkutan,” papar Samuel ketika menghubungi media ini, Senin (15/10/2018) malam.

Baca Juga :  Layak, Wanita Ini Mewakili Sumba Di Senayan

Hingga berita ini di turunkan, masyarakat Desa Ramadana menunggu realisasi pembongkaran gedung mes guru yang di nilai cacat hukum. (alf/qi)

Comments

comments