Proyek Swakelola SD Inpres Satap Gokata Di Duga Dikerjakan Tidak Sesuai Spek

0
1350

Tambolaka — Sesuai Perpres No. 54 Tahun 2010, tentang pengadaan barang dan jasa Pemerintah, proyek swakelola merupakan kegiatan yang direncanakan, dilaksanakan dan di awasi sendiri oleh lembaga sekolah yang menerima bantuan.

Data lapangan yang di himpun Kiblatntt.com, SD Inpres Satap Gokata yang terletak di Desa Ramadana, Kecamatan Loura pada tahun 2018 mendapat bantuan rehabilitasi 4 ruangan kelas, satu unit mes guru dan tiga ruang RKB.

Dalam proses pengerjaan, di dapati bukti bahwa pembangunan gedung mes guru tidak sesuai dengan spesifikasi teknis seperti yang tertuang dalam dokumen perencanaan.

Selain itu, Samuel Geli selaku Ketua Komite SD Inpres Satap Gokata tidak di libatkan sejak dalam pembentukan tim hingga dalam proses pengerjaan. Tak hanya Ketua Komite, juga masyarakat tidak dilibatkan, padahal di ketahui bersama bahwa proyek ini bantuan swakelola.

“Dari awal tidak ada pembentukan tim, padahal untuk rehabilitasi empat gedung lama, pembangunan mes guru dan penambahan RKB itu harus di bentuk tim. Ketua tim saat ini hanya di tunjuk oleh Kepala Sekolah. Bahkan dewan guru termasuk kami komite tidak pernah lihat RAB dan gambar bangunan apa lagi jumlah anggaran,” ungkap Samuel (6/10/2018).

Baca Juga :  IKALSABDA Jabodetabek Salurkan Bantuan Untuk Anak Kurang Gizi Di SBD

Samuel mengaku saat ini proses pengerjaan gedung mes guru sedang di tahannya lantaran beberapa item tidak sesuai dengan spesifikasi teknis.

“Saya sudah tahan mes itu tidak boleh lanjut kerja, aturan proyek harus sesuai dengan RAB dan gambar, tapi nyatanya Kepala sekolah Fransiskus Bobo Ngongo bekerja menggunakan kebijakan. Memangnya ini rumah pribadinya. Sepertinya Kepala sekolah mau korupsi sehingga mengurangi beberapa item pekerjaan seperti fondasi bawah hanya tiga urat kawat beton ukuran 10 serta bigel dengan jarak 25-30 cm. Padahal fondasi bawah harusnya menggunakan 4 urat kawat beton dan bigel dengan jarak 15 cm. Selain itu, kuda-kuda bagian atas bangunan seharusnya menggunakan balok 8/12 namun fisiknya digunakan balok 6/12,” paparnya.

Tidak hanya gedung mes, juga empat ruangan kelas yang di rehab sedang juga menjadi sorotan. Pasalnya, tidak seluruhnya menggantikan kayu-kayu bangunan. Nampak terlihat bahwa kayu yang di perbaharui hanya di bagian konsul penahan kuda-kuda.

“Intinya proyek ini tidak jelas, Kepala Sekolah tidak libatkan kami Komite. Kalau ada masalah di kemudian hari pak Fransiskus itu tidak boleh libatkan saya selaku Komite. Kami sudah tidak dilibatkan, apa lagi mengetahui jumlah anggaran tapi isu yang kami dengar jumlah anggaran sekitar Rp 900 lebih juta. Itu dana besar loh, tentu ada peluang mencuri,” imbuh Samuel mengakhiri.

Baca Juga :  Tambah Satu di Flotim, Pasien Positif Covid-19 di NTT jadi 91

Sedangkan Kepala Sekolah yang di konfirmasi media ini membantah dirinya bekerja tidak sesuai petunjuk dari dinas. Ia mengaku tim dari dinas P dan K telah datang melihat sendiri kondisi bangunan.

“Dinas tidak ada kata apa-apa, justru mereka memuji saya karena ini sekolah yang cepat proses pembangunan di bandingkan dengan sekolah lain walaupun dana belum cair. Apa yang di katakan Ketua Komite itu semua dusta, lihat saja di dalam gudang sana sudah ada enam Kubik balok yang saya beli pakai uang pribadi. Ketua Komite bisa tuduh saya begitu,” kata kepala sekolah, Fransiskus Bobo Ngongo.

Ketika di tanya berapa jumlah anggaran yang di gontorkan Pemda SBD dalam pembangunan gedung swakelola itu, Fransiskus tidak menyebutkan dengan alasan tidak etis di publikasikan.

“Saya rasa tidak etis kalau di publikasikan lewat media,” katanya.

Rumor yang berkembang bahwa dana bantuan untuk proyek tersebut belum cair, namun dalam proses pembangunan saat ini Kepala Sekolah mengambil dana simpan pinjam dengan bunga yang tidak di ketahui berapa persen. (alf/qi)

Baca Juga :  Dandim 1604/Kupang Laporkan Persiapan TMMD 108 Kepada Pangdam Udayana Melalui Vicon

Comments

comments