VBL : Jangan Persoalkan Nama RSUD, Yang Penting Pelayanannya

0
1251

Tambolaka — Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) kini berbangga karena telah hadir Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pratama Radabolo yang berdiri megah dengan 13 gedung dan fasilitas yang lengkap.

RSUD Pratama Radabolo telah di resmikan oleh Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat yang di tandai dengan penandatangan prasasti. Peresmian RSUD Pratama Radabolo, berlangsung di Desa Watukawula, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Rabu (27/2/2019).

Bupati Sumba Barat Daya, Markus Dairo Talu dalam sambutannya mengatakan masyarakat Sumba Barat Daya berbangga karena RSUD Pratama Radabolo sudah di resmikan dan akan beroperasi melayani masyarakat SBD dan Sumba umumnya.

“Kita semua bangga karena apa yang kita nantikan selama ini boleh terwujud dan terjadi hari ini karena kerja keras kita yang tak luput dari Penyertaan Tuhan,” kata MDT.

MDT mengaku, pemberian nama RSUD Pratama Radabolo hasil kesepakatan tokoh masyarakat Loura, Kodi dan Wewewa.

“Masalah penamaan Radabolo bukan karena nama rumahnya Redabolo tetapi arti Radabolo adalah melihat semua tiga wilayah di SBD, Loura, Kodi, Wewewa. Dan nama Radabolo sudah di bahas bersama tokoh-tokoh masyarakat,” paparnya.

Baca Juga :  Layak, Wanita Ini Mewakili Sumba Di Senayan

MDT berharap dengan hadirnya RSUD Pratama Radabolo, dapat membantu masyarakat di bidang kesehatan, melayani masyarakat dengan sungguh.

Hal senada di sampaikan Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat dalam sambutannya mengatakan masyarakat harus bangga memiliki aset terbesar di SBD.

“Hari ini masyarakat Kabupaten Sumba Barat Daya berbangga, siapa yang tidak berbangga, tentunya kita semua berbangga hari ini. Ini adalah sejarah baru, sejarah pelayanan masyarakat dengan hadirnya sebuah simbol pelayanan public dalam bidang kesehatan. Dan ini menandakan ciri khas daerah maju, Kabupaten-Kabupaten maju, maka salah satu ukurannya adalah Pemerintah mampu menyediakan fasilitas-fasilitas dalam melayani kebutuhan dasar masyarakat,” kata VBL.

VBL mengingatkan sebagai masyarakat jangan mempersoalkan RSUD ini dari segi pemberian nama, namun menurutnya jika pelayanan tidak maksimal itu yang harus di persoalkan.

“Kalau ada nama yang kurang suka, nama ya tetap nama. Kita juga kalau umpama lahir, kita di kasih nama dan mungkin juga kita pilih yang lain. Tidak ada orang yang tahu nanti dia suka dan tidak suka namanya. Yang kita butuhkan itu fungsinya. Nama dari Radabolo ya tetap nama, mau bikin apa itu nama? Tapi kalau fungsinya tidak jalan ya sama saja. Jadi saya pikir janganlah kita membuang energi banyak kepada hal-hal yang sifatnya tidak menjadi dasar dalam membangun semangat kita,” ungkapnya.

Baca Juga :  Nasib Pelabuhan Waikelo Terkatung-katung

Sebagai Gubernur, dirinya mendorong Bupati Sumba Barat Daya untuk terus menyempurnakan fasilitas di tempat ini. Dia pun sepakat dengan letak RSUD Pratama Radabolo yang sangat strategis yang dapat di jangkau oleh 3 wilayah di SBD.

“Tempat ini sangat bagus, orang kalau datang melihat RS bersih, perawatnya senyum, dokternya ramah, itu sudah diskon 50 persen orang sembuh. Tapi kalau datang RS kotor, bau, dokter dan susternya muka cemberut jadi tambah lagi penyakit pasien 50 persen,” kata VBL yang di ikuti riak tawa tamu undangan.

VBL berpesan, hari ini bukan saja meresmikan RSUD tetapi kita sedang mengembangkan budaya melayani yang mampu memberikan kenyamanan bagi orang lain.

“Rumah Sakit ini adalah lambang, lambang keramahtamahan (Hospitality) pelayanan kesehatan dari pada masyarakat Sumba Barat Daya ini. Dan mimpi besar tempat ini juga akan menjadi pusat pelayanan kesehatan di Pulau Sumba dan juga berpeluang untuk menampung saudara sebangsa dan setanah air yang ada di luar Sumba,” pintanya.

Baca Juga :  Hadiri Panen Raya Padi, Bupati MDT Serahkan Bantuan Alsintan‎

Dirinya juga mengingatkan selama masa Pemerintahannya tidak boleh ada RSUD yang lebih mengedepankan keuntungan dari pada pelayanan.

“Saya tidak mau dengar ada RSUD yang tidak menerima pasien karena tidak membayar terlebih dahulu administrasinya. Orang kalau sakit itu tentunya orang stres, atau ada yang sakit bahagia disini? Sudah sakit tambah minta uang dia tambah stres, kalau sudah sembuh baru di bayar itu baru betul. Ini menjadi tantangan kita, di lain pihak kita ingin kemandirian RS ini, tetapi di pihak lain pelayanan public kepada masyarakat kurang mampu itu harus kita manpu lakukan dengan baik. Maka aspek sosial dari pada RS ini bukan hanya semata-mata kita bicara, tetapi dapat kita lihat dari setiap pelayanan. Maka karena itu Pemerintah Daerah perlu mendesain itu,” kata VBL. (alf/qi)

Comments

comments