OJK Kembali Gunakan Gedung Lama BI Hingga 2022 Mendatang

0
154

KIBLATNTT.COM, KUPANG — OJK kembali menempati gedung kantor perwakilan Bank Indonesia di jalan Tompello pada tanggal 1 April 2019 dengan status gedung pinjam pakai dari Bank Indonesia (BI) sejak 19 Desember 2018 sampai dengan 31 Desember tahun 2022 mendatang.

Menempati gedung kantor Provinsi NTT ini menjadi sebuah hadiah manis menjelang hari ulang tahun OJK yang ke-8 yang akan jatuh pada tanggal 22 November 2019 yang akan datang.

Demikian dikatakan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nusa Tenggara Timur (NTT), Robert Sianipar pada acara Peresmian Gedung Kantor OJK NTT, Jumat (15/11/2019). Sebagaimana kita ketahui kondisi perekonomian provinsi NTT yang kondusif dan tumbuh 3,87 persen year on year pada triwulan III tahun 2019, ini sejalan dengan kinerja lembaga jasa keuangan di NTT yang tumbuh stabil dan berkinerja baik

“Hingga posisi November 2019 terdapat 85 Lembaga Jasa Keuangan (LJK) yang beroperasi di provinsi NTT terdiri dari 22 bank umum dan satu BPD NTT, 12 BPR, 50 Industri Keuangan Non Bank (INKB) yang terdiri dari 19 perusahaan pembiayaan, dua perusahaan modal ventura, satu perusahaan pegadaian, dua perusahaan penjaminan, satu dana pensiun dan 25 perusahaan asuransi. Pasar modal empat galeri investasi PT Bursa Efek Indonesia pada empat universitas di NTT, 15 agen penjual reksa dana yang dimiliki enam bank umum di Provinsi NTT,” katanya.

Baca Juga :  OJK Keluarkan Kebijakan Buyback Saham Tanpa Persetujuan RUPS

Menurutnya, kegiatan fintech juga sudah cukup tinggi di NTT sampai dengan posisi September 2019 jumlah rekening borrower 22.729 rekening. Sementara Jumlah rekening lender dari 1.580 rekening dengan akumulasi penyaluran pinjaman Rp 73,7 miliar.

“Secara umum kondisi sektor perbankan di Provinsi NTT hingga triwulan III 2019 dapat dikatakan stabil, tercermin dari rasio permodalan yang tergolong baik rata-rata di atas 12 persen, mengindikasikan industri perbankan di NTT dapat menyerap risiko kerugian yang mungkin timbul dari aktivitas operasional industri perbankan.

Di sisi lain rasio NPL perbankan NTT di angka 2,39% masih berada dibawah angka 5% mengindikasikan risiko kerugian dari aktivitas perkreditan perbankan di NTT masih terkendali. Pada sektor INKB, lanjutnya, hingga triwulan III 2019, piutang perusahaan pembiayaan mencapai Rp 1,6 triliun, tumbuh 16,06% dari tahun ke tahun.

Perusahaan pembiayaan di Provinsi NTT merupakan salah satu lembaga keuangan yang diminati seiring dengan kebutuhan konsumtif masyarakat milenial.

Misalnya untuk pemilikan kendaraan bermotor, gadget dan peralatan rumah tangga lainnya.
Ia melanjutkan pada sektor pasar modal investor saham di provinsi NTT hingga triwulan III 2019 mencapai 4.829 investor, investor reksadana mencapai 3.728 investor dan investor SBN mencapai 506 investor.

Baca Juga :  Nilai Ekspor NTT Naik 2,8 Persen

Nilai transaksi saham mencapai Rp 61 Miliar atau tumbuh 26,7% tahun inj dan nilai kepemilikan saham mencapai Rp 158 miliar tumbuh 33,58% tahun ini.(lya)

Comments

comments