Ini Kronologis Dugaan Anggota DPRD Hamili Siswi SMA

0
8312

Tambolaka — Anggota DPRD fraksi Hanura Kabupaten SBD berinisial YDK di duga menghamili seorang siswa SMA berinisial MG (19). Usia kandungan MG saat ini memasuki empat bulan.

Kepada media ini, Rabu (17/10/2018), korban MG (19) yang di dampingi oleh keluarganya menjelaskan kronologis dirinya hingga menjadi korban pelecehan seksual oleh Anggota DPRD fraksi Hanura tersebut.

MG mengaku sejak tahun 2013 silam, atas inisiatif dari YDK meminta MG kepada orang tuanya agar tinggal (Numpang,red) di rumahnya di Desa Homba Karipit, Kecamatan Kodi Utara. Menurutnya, orang tua mengijinkan sebab antara MG dengan YDK masih berstatus keluarga (Paman dan Ponaan,red)

“Tahun 2013 lalu pelaku YDK minta saya tinggal di rumahnya untuk bantu-bantu kerja, karena kebetulan saat itu saya baru masuk di SMP. Atas dasar pertimbangan bapak dan mama saya karena mengingat masih ada hubungan keluarga maka saya di ijinkan tinggal di rumah pelaku YDK sambil melanjutkan pendidikan di bangku SMP selama tiga tahun. Hingga tahun 2016 setelah lulus dari SMP saya kemudian lanjut sekolah di SMA St. Alfonsus Weetebula. Dan saya saat itu tinggal di asrama,” papar MG.

Lanjut MG, selama dirinya bersekolah di Waitabula sudah tidak ada lagi status numpang di rumah terduga pelaku YDK. Namun saat YDK mengetahui MG berlibur di kedua orang tuanya di kampung Gallu Wawi, Desa Homba Karipit, Kecamatan Kodi Utara, SBD, YDK menjemput korban MG untuk tinggal di rumahnya dengan alasan bantu-bantu kerja.

“Kebetulan saat ini memasuki masa politik pemilihan Bupati SBD, ya namanya sebagai tim sukses tentu banyak orang di rumah. Namun pada tanggal 16 Juni 2018 sekitar pukul 24.00 Wita, YDK memaksa saya melayani nafsunya di kamar keluarga dengan ancaman senjata api di mulut saya. Saat itu istri YDK tidak berada di rumah, sedangkan di dapur masih banyak orang yang bekerja. Sayapun akhirnya pasrah karena di ancam akan membunuh saya dengan senjata api kalau berteriak,” jelasnya.

Baca Juga :  BNNP NTT Terima 10 LKN di Tahun 2019

MG mengaku takut menceritakan kejadian yang menimpahnya akibat YDK mengancam akan membunuhnya bersama orang tuanya jika sampai MG menceritakan kepada orang lain.

“Saya di ancam akan di bunuh jika cerita kejadian ini di orang lain. Bahkan orang tua saya tidak saya beritahu karena takut,” katanya.

Lebih lanjut MG mengaku, pada tanggal 25 Juni 2018, sekitar pukul 02.00 Wita, YDK kembali berulah memaksa MG melayani nafsu birahinya dengan ancaman akan menembaknya. Ia mengaku, kejadian kali kedua lagi-lagi istri YDK sedang berlibur di Waingapu-Sumba Timur.

“Tanggal 25 Juni lagi kejadian kedua, itu istrinya tidak ada di rumah ada pergi berlibur di Waingapu. Saya tidak tahu YDK dia dari mana, dan saat itu kami semua sudah terlelap dalam tidur. Dia datang langsung tarik saya dari kamar dan bawa di kamarnya, lalu dia mendorong tubuh saya di tempat tidur. Lagi dia ancam akan bunuh saya jika tidak melayani nafsu birahinya. Kejadian yang kedua ini saya takut memberitahu kepada orang lain karena di ancam terus akan di bunuh menggunakan senjata api miliknya,” jelas MG.

Selama beberapa bulan, menurut pengakuan MG, dirinya telah merasakan perubahan di dalam tubuhnya. Dimana saat itu, MG telah mengandung 4 bulan. Melihat perubahan dirinya, lanjut MG, ayahnya RG bertanya kepada MG. Lalu MG menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya.

“4 Oktober 2018 saya mendatangi YDK di rumahnya untuk meminta pertanggungjawaban sekaligus memilih tinggal di rumahnya dan dijadikan istri kedua. Saya sampai di rumahnya, YDK langsung tarik tangan saya bawa masuk di kamar bersama dengan kedua orang yang ikut tinggal di rumahnya juga, lalu menyuruh saya memilih salah satu dari mereka untuk dijadikan suami yang penting bukan dirinya. Kedua lelaki itu bernama Jappa dan Petu (Adik Kakak). Sedangkan urusan adat dan lain-lainnya YDK akan bertanggungjawab penuh dari belakang. Sedangkan YDK tidak mungkin bertanggungjawab sebab dia adalah Anggota DPRD dan saat ini dalam situasi politik. Tetapi saya menolak terus, harus YDK yang bertanggungjawab, secara spontan YDK langsung mengeluarkan senjata apinya lalu mengancam saya akan di bunuh bersama kedua orang tua saya apabila terus memaksanya bertanggungjawab,” ungkap MG.

Baca Juga :  Kuasa Hukum Nadus Saduk Minta Kejati NTT Bertindak

Bahkan, YDK sempat membujuk MG agar mengakui yang menghamilinya adalah Anggota Kepolisian dari Kupang yang bertugas pengamanan Pilkada SBD. Segala cara di duga dilakukan oleh YDK untuk mengamankan posisinya.

“Dia sempat membujuk saya agar mengakui yang menghamilinya adalah Polisi dari Kupang yang saat itu sedang bertugas pengamanan Pilkada di wilayah Kodi Utara dengan cara memperkosanya ketika sedang dalam perjalanan membeli pulsa di kios. Ini juga pelanggaran karena YDK telah memfitnah lembaga Kepolisian,” kata MG.

MG mengaku pertengkaran di dalam kamar YDK tetap tidak menghasilkan kesimpulan, sehingga YDK menyuruh Jappa mengantar MG pulang ke rumah orang tua MG. Tetapi keesokan harinya (05/10/2018), MG kembali mendatangi YDK di rumahnya untuk di mintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannnya. Namun hal yang sama dilakukan YDK memaksa MG harus memilih Jappa sebagai suami yang bertanggungjawab.

“Saya di iming-imingkan akan dibelikan tanah, buatkan rumah di pinggir jalan, bagi gaji DPRD secara merata, kemudian setelah saya melahirkan di tangan Jappa, YDK akan kembali sekolah kan saya di SMA dan akan dikuliakan di Yogja dengan jurusan keperawatan. Semua janji itu akan terpenuhi jika saya menerima Jappa sebagai suami. Tetapi saya tetap menolak,” imbuh MG.

Kejamnya, MG yang mengandung 4 bulan itu di bawah paksa oleh Jappa di rumah kakaknya Petu pada (5/10/2018) malam. Lalu, Jappa juga mengancam MG dengan sebilah parang dilehernya akan membunuhnya jika tidak melayani nafsunya.

Baca Juga :  Kekerasan Seksual Meninggalkan Trauma Seumur Hidup bagi Korban

“Saya tidak tahu konspirasi apa yang di bangun oleh Jappa, Petu dan istrinya seketika itu saya berada di rumah Petu di bawah paksa oleh Jappa, YDK memanggil Petu di rumah YDK hingga tinggal kami berdua saja yang membuat Jappa bebas berbuat seenaknya terhadap saya. Jappa juga bilang saya ini hanya mendapat sisa dari YDK, kalau kau tidak kasih saya akan bunuh kau. Terpaksa dengan ancaman lagi saya di jadikan piala bergilir oleh YDK dan Jappa,” kata MG sembari menangis.

Keluarga korban tak puas dengan perlakuan yang dilakukan oleh YDK dan Jappa, hingga akhirnya keluarga korban menempuh jalur hukum dengan melaporkan kasus tersebut di SPKT Polres Sumba Barat pada tanggal 9 Oktober 2018 dengan nomor laporan TBL/273/X/2018/RES. SUMBA BARAT/SPKT.

Selain melakukan pelaporan resmi di Polres Sumba Barat, keluarga korban juga melakukan pengaduan ke berbagai lembaga dan instansi seperti tembusan kepada Gubernur NTT, Kapolda NTT, Bupati Sumba Barat Daya, Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Kapolres Sumba Barat, Ketua Pengadilan Negeri Sumba Barat, Kepala Kejaksaan Negeri Sumba Barat, Kepala Kesbangpol Sumba Barat Daya, Camat Kodi Utara, Koramil Kodi, Kapolsek Kodi Utara, Babinsa Kodi Utara, Kepala Sekolah SMA St. Alfonsus Weetebula.

Rehi Gela ayah korban mengaku kecewa dengan perbuatan YDK terhadap anaknya MG. Dirinya mengaku ingin meminta pertanggungjawaban kepada YDK secara kekeluargaan, namun Rehi Gela semakin terpukul dengan dijadikan anaknya sebagai piala bergilir sebagai pemuas nafsu para oknum.

“Saya sangat kecewa, sekarang walaupun YDK ancam mau bunuh kami, tidak jadi soal. Sekarang ini saya sudah mati, demi nasib anak saya kedepannya saya mau dia membayar semua perbuatannya dengan masuk penjara. Hanya itu yang ada dalam benak saya sekarang. Dan Polres harus usut kasus ini, jika tidak maka kami akan cabut laporannya dan limpahkan ke Polda NTT,” ungkap Rehi Gela. (alf/qi)

Comments

comments