327 Kasus DBD di Kota Kupang, Empat Meninggal

0
142

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Kupang sampai dengan saat ini tercatat sudah sebanyak 327 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak empat orang. Kasus tertinggi ada di Kecamatan Maulafa dengan empat korban meninggal dunia.

Demikian dikatakan kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kupang, Sri Wahyuningsih ,Selasa (25/2/2020) di ruang kerjanya. Ia mengatakan empat yang meninggal ini dari wilayah kecamatan Maulafa yaitu satu dari Kelurahan Naimata, dua dari Kolhua dan satu dari Kelurahan Sikumana.

“Memang saat ini kasus terbanyak dan tertinggi ada di Kecamatan Maulafa, Kecamatan Kelapa lima dan Kecamatan Oebobo, “katanya.

Menurutnya, Sekarang memang kita butuh untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) semua orang harus berperan. Kita lihat di BTN Kolhua itu sampah-sampah plastik.

“Kemarin juga teman-teman dari Puskesmas sudah turun untuk melakukan penyelidikan epidemiologi setiap ada kasus kematian harus dilakukan epidemiologi untuk melihat apakah ada penambahan kasus dan kepadatan jentik dan memang disana angka bebas jentiknya rendah (artinya jentiknya banyak). Ini yang menjadi salah satu indikator dan ini tugas kita semua dan teman-teman puskesmas sudah lakukan penyuluhan dan pembagian abate, “ungkapnya

Baca Juga :  41 ODP di NTT Selesai Masa Pemantauan

Ia meminta yang paling penting kita dirumah itu bisa jadi juru pemantau jentik untuk kita punya rumah karena nyamuk ini setiap tujuh hari dia akan bertelur dan menetas satu nyamuk itu dia bisa bertelur 300 jadi kalau orang semua minta foging sebenarnya foging itu tidak efektif dia hanya mematikan nyamuk yang dewasa sedangkan jentik-jentik kalau kita tetap peliharaan. Sekarang kalau habis semprot kita tidak boleh lap bekas foging itu kalau kita langsung lap otomatis obatnya langsung hilang.

“Sehingga sama saja setelah abis fogging juga sama saja karena kita masih tetap piara jentik dan jentik itu tidak akan mati oleh foging dia hanya bisa mati kalau kita kasih abate atau piara ikan artinya kita yang harus melihat sekarang fenomenanya dia kalau dulu dia hanya ada di bak-bak penampungan yang bersih tapi kalau di luar juga yang namanya wadah plastik-plastik walaupun agak tercampur dengan tanah tapi kalau ada air dia bisa berkembang disitu dan dia bisa menempel kalau kering enam bulan dia masih bisa bertahan jadi kalau ada air lagi sehingga memang kami sudah mengeluarkan himbauan dari bulan Juli kemarin meminta untuk melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk dan kami liat ada di beberapa kelurahan yang aktif melakukan PSN,.”tegasnya.

Baca Juga :  PDAM Kota Kupang Lakukan Tagihan dari Rumah ke Rumah

Lurah himbau itu angka kejadian DBD dibandingkan tahun ini dan tahun lalu bisa turun sampai 50-70 persen. Dulukan kita selalu dengar Kampung Solor, Bonipoi, Fatubesi itu yang selalu tapi karena mereka sudah cegah dengan PSN terus abate mereka angka bebas jentiknya bagus diatas 60 persen itu mereka terbebas tahun lalu kami masih keliling Airmata, Kampung Solor tahun ini tidak. Jadi artinya sekarang peran semua orang sangat penting.

“Kalau orang yang tergigit dia sudah tersimpan dan yang bisa mengigit itu nyamuk betina dan dia akan bertelur jika punya darah artinya ini jenis nyamuk Aedes aegypti ini yang bisa menyebabkan demam Berdarah intinya kita harus memutuskan mata rantai dengan menghilangkan jentik terus kita punya rumah bersih tapi radius 200 meter ini masih tetap ada sama saja kita juga memelihara, “katanya.(lya)

Comments

comments