Gubernur NTT: Kemenkes yang Berhak Menyatakan Pasien Positif Covid-19 Sesuai Hasil Laboratorium

0
51

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menegaskan, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI yang dapat mengetahui kondisi pasien positif Coronavirus Disease (Covid)-19. Penentuan seseorang positif Covid-19 atau tidak akan disampaikan Kemenkes RI sesuai hasil pemeriksaan laboratorium.

“Kita tetap ambil sampel darahnya untuk diperiksa di Laboratorium di Jakarta. Karena itu, kami mau mengatakan kepada seluruh masyarakat NTT, positifnya seseorang terkena Coronavirus akan ditentukan oleh hasil pemeriksaan Lab di Jakarta,” tandas Gubernur VBL melalui Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si kepada pers di Kupang, Kamis (02/4/2020).

Menurut Marius yang juga juru bicara Covid-19 Provinsi NTT, yang akan mengumumkan positif Coronavirus itu bukan juru bicara Pemerintah Provinsi NTT tetapi juru bicara nasional.

“Karena Lab itu ada di Jakarta dan biasanya Laboratorium Kementerian Kesehatan itu akan melapor kepada gugus tugas pusat. Jadi mereka yang akan mengumumkan apakah seseorang itu positif atau tidak. Karena itu, kami meminta seluruh masyarakat NTT untuk tidak panik,” pinta Marius.

Baca Juga :  BKD Target Pemasukan PBB Capai Rp 1,5 Miliyar

Dia menambahkan, “Sekali lagi, Bapak Gubernur mengimbau kita untuk tidak panik. Karena kenyataannya, pasien-pasien sejak tanggal 3 Maret 2020 lalu, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) juga ternyata bisa sembuh. Demikian juga Orang Dalam Pemantauan (ODP) bisa sembuh. Kalau kita ikuti pemberitaan media, pasien yang sudah positif Coronavirus pun bisa sembuh, dengan bantuan Tuhan ada yang sembuh. Jadi mari kita menjaga kesehatan kita.”

Meski masih negatif Covid-19 di Provinsi NTT, sebut Marius, masyarakat diharapkan untuk tetap siaga.

“Seperti kata Bapak Gubernur, walaupun NTT masih negatif tapi kita tetap siaga, tetap waspada dengan mengikuti pedoman-pedoman yang telah disampaikan, baik oleh organisasi kesehatan dunia WHO maupun oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi serta Pemerintah Kabupaten/Kota di NTT,” tandas dia.

Masyarakat juga lanjut Marius, harus menghindari kerumunan, tidak melakukan kegiatan yang melibatkan banyak orang, selalu tinggal di dalam rumah, menghindari kerumunan dimanapun, tidak masuk keluar mall, pasar untuk hal yang tidak perlu, kemudian mencuci tangan selalu dengan sabun, menyiram dengan cairan disinfektan di tempat-tempat publik atau di dalam rumah tapi jangan di badan.

Baca Juga :  Polsek Kodi Rangkul Masyarakat Jaga Kamtibmas

 

Klarifikasi Pasien yang Meninggal

Pada bagian lain, Marius mengklarifikasi berbagai isu yang berkembang di masyarakat melalui media sosial atau sosmed. Menurut dia, sebelumnya almarhumah datang dari Denpasar-Bali bersama dengan anaknya berumur satu tahun lalu kemudian diperiksa di Puskemas Baumata dan disitu almarhumah melapor diri bahwa almarhumah telah hamil tujuh bulan.

“Tapi setelah dicek oleh bidan di Puskesmas Baumata ternyata bukan hamil tujuh bulan tetapi mau melahirkan. Itu berarti sembilan bulan. Karena mau melahirkan maka dirujuk ke Rumah Sakit Leona Kupang. Di Rumah Sakit Leona Kota Kupang, saat almarhumah duduk di kursi sebelum tindakan medis, almarhumah kejang-kejang dan memang saat itu suhu badannya tinggi, sangat panas. Jadi diduga almarhumah keracunan kehamilan. Jadi tidak benar informasi yang beredar di medsos bahwa almarhumah positif Coronavirus,” jelas Marius. (*/lya)

Comments

comments