Kuda Sandalwood Pemberian Masyarakat SBD Kepada Presiden Bernilai Budaya

989
11850

Tambolaka — Dua ekor kuda yang diberikan masyarakat Sumba Barat Daya kepada Presiden Joko Widodo saat mengunjungi Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi NTT bulan Agustus lalu dalam rangka menghadiri event parade 1001 ekor kuda Sandalwood dan Festival tenun ikat di Lapangan Galatama Tambolaka bukanlah sebuah gratifikasi. 

Pasanya kuda Sandalwood yang diberikan itu memiliki nilai budaya yang khas sesuai budaya dan adat istiadat yang dianut turun temurun dari leluhur masyarakat Sumba Barat Daya. 

“Jangankan untuk seorang pejabat, untuk masyarakat biasa saja kalau berkunjung ke rumah seseorang, itu adatnya tuan rumah memberikan kain tenun dan wajib menikam seekor babi‎ dan menyerahkan kepada tamu yang datang itu,” kata Bupati Markus Dairo Talu, Rabu (31/8/2017) menanggapi pemberitaan sejumlah media terkait dua ekor kuda yang diberikan masyarakat SBD kepada Presiden yang dilaporkan ke KPK.

Menurut Bupati Markus bahwa kuda yang diberikan itu bukan hadiah apalagi gratifikasi, itu diberikan sesuai budaya masyarakat Sumba Barat Daya‎. Dan perlu diklarifikasi bahwa harga dua ekor kuda itu tidak mencapai ratusan juta rupiah seperti yang diberitakan media bahwa harganya mencapai Rp 170 Juta. 

Baca Juga :  Polsek Kodi Rangkul Masyarakat Jaga Kamtibmas

“Harga dua ekor kuda itu paling tinggi itu Rp 20 Juta, masing-masing ekor Rp 10 juta. Jadi tidak benar itu kalau harganya Rp 170 Juta, kalau tidak percaya ya datang saja di SBD dan dicek langsung harga kuda,” ujarnya.

Dijelaskannya bahwa saat itu Presiden diberi penghargaan dan predikat oleh masyarakat Sumba Barat Daya sebagai seorang Rato (Raja)‎, karenanya sebagai seorang Rato sudah sepantasnya orang tersebut (Presiden,red) diberikan pula perlengkapan ikutan. Perlengkapan ikutannya itu adalah Kain tenun, parang dan kuda tunggangan. 

“Kalau Rato/Raja di SBD itu harus memiliki perlengkapan itu, karena kuda itu bagi masyarakat SBD melambangkan kejantanan dan atau kesatria dari seorang laki-laki yang diangkat sebagai Rato,” kata Bupati yang akrab disapa MDT itu. 

Sehingga sebenarnya tidak perlu dilaporkan, karena kehadiran pak Presiden saat itu pun dalam rangka menghadiri festival budaya. Dan disitulah nilai budaya dari Kabupaten Sumba Barat Daya. 

“Apakah dengan begini lalu kita hilangkan budaya, kan tidak bisa, ini budaya leluhur yang sudah turun temurun dilaksanakan. Dan itu bentuk penghormatan kepada seorang tamu yang berkunjung ke rumah kita, apalagi ini Bapak kita seluruh masyarakat Indonesia yang juga bapaknya masyarakat SBD‎,”tuturnya.

Baca Juga :  Pekan Ini 111 Unit Hand Tractor Dibagikan

Namun lanjut MDT bahwa dirinya tidak mempersoalkan pelaporan kuda tersebut kepada KPK. “Saya tidak persoalkan, saya hanya meluruskan saja makna dari pemberian kuda tersebut kepada bapak Presiden oleh masyarakat Sumba Barat Daya,” pungkasnya.(red)

Comments

comments