OJK Sasar Perempuan, Mahasiswa dan UMKM

0
57

KIBLATNTT.COM, KUPANG — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk tahun 2019 inu menyasar segmen kaum perempuan, UMKM dan mahasiswa untuk melakukan edukasi keuangan. Ini dilakukan OJK Provinsi NTT, karena sektor UMKM pada bidang pariwisata saat ini dikuasai oleh kaum perempuan sekitar 60 persen.

Karena itu, OJK Provinsi NTT terus menyasar kaum perempuan sebagaimana yang dilakukan Kamis (10/10/2019) di aula lantai tiga Kantor OJK Provinsi NTT dengan tema “Pengenalan Jasa Keuangan, Cerdas Merencanakan Keuangan, Serta Mewaspadai Investasi Bodong”.

Kepala OJK Provinsi NTT, Robert Sianipar dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan OJK Mengajar kepada kaum perempuan Kamis (10/10/2019) di Aula Rapat lantai III Kantor OJK Provinsi NTT menegaskan, OJK sebagai lembaga negara yang dibentuk dengan UU Nomor 21 tahun 2011.

Dimana yang menjadi tugas pokok OJK adalah mengatur, mengawasi dan melindungi, seluruh sektor jasa keuangan yang ada di Indonesia, yaitu perbankan, pasar modal dan industri keuangan non bank seperti pegadaian, asuransi, dana pensiun, dan lain-lain.

Edukasi keuangan ini, kata Robert, digelar untuk ibu-ibu. Karena selain menjalankan tugas pokok, OJK juga mempunyai tugas melakukan edukasi dan perlindungan konsumen. Dimana tematik tahun ini menyasar segmen ibu-ibu, kaum pelajar mahasiswa dan UMKM.

Baca Juga :  Wagub Beri Tips Manajemen Ritel untuk Pelaku UKM

“Kegiatan ini bukan pertama kali untuk ibu-ibu. Tapi beberapa bulan lalu juga mengundang kaum Wanita GMIT, karena penting melakukan fungsi edukasi,” tuturnya.

Ia menjelaskan karena persetanse literasi di Indonesia baru 28 persen, artinya kalau dikumpulkan 100 orang maka yang tahu tentang inklusi jasa keuangan 28 orang.
Namun angka pengguna jasa keuangan mencapai 62 persen. Hal ini berarti lebih banyak pengguna dari pada jumlah orang yang memahami jasa keuangan.

Ia mengatakan perempuan sebagai penentu pengambil keputusan dan pengelolaan keuangan rumah tangga, maka diharapkan dengan melakukan edukasi maka akan lebih bisa mengenal jas keuangan.

Hal ini agar terhindar dari penawaran investasi ilegal atau pinjaman online ilegal. Karena saat ini tengah marak pinjaman online.

Di NTT per 30 Juni 2019 terdapat 1.389 rekening lender dan 13.675 rekening borrower dengan akumulasi penyaluran pinjaman Rp 48,81 Miliar.

“Ini artinya sudah mulai marak dan dikenal. Pinjaman online memang memberi kemudahan tapi ada resikonya. Maka harus diperhatikan, karena pinjaman biasanya tidak sesuai kebutuhan. Pinjamnya untuk apa, harus disesuaikan dengan kebutuhan jangan sampai gali lubang, tutup lubang akibatnya terlilit hutang. Pinjamlah sesuai kemampuan dan kebutuhan,” tuturnya.

Baca Juga :  Korem 161/WS Gelar Merah Putih Fun Adventure 2019

Oleh karena itu, kata Robert, pilihlah investasi yang legal dan dengan kegiatan ini bisa memahami lembaga jasa keuangan yang legal dan berizin agar terhindar dari investasi ilegal.

Sementara itu Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak NTT, Sylvia R Peku Djawang, mengatakan pertemuan ini sangat bermanfaat bagi kaum perempuan. Karena diketahui bersama dari sisi jumlah perempuan dan perannya sangat besar.

Dari sisi kualitatif kaum perempuan harus memberi peran yang baik bagi pembangunan di NTT.

“Kita tahu bahwa dulu perempuan dikatakan tidak berdaya guna. Tetapi pemerintah provinsi NTT memberi tantangan yang besar kepada perempuan NTT untuk bisa beri manfaat kepada pembangunan tidak hanya di urusan rumah tangga. Namun peran yang diberikan saat ini kedepan bahwa perempuan harus mengisi pembangunan segala aspek dari posisi masing-masing,” ujarnya.

Dinas P3A, kata Sylvia, beberapa waktu lalu telah melakukan pelatihan-pelatihan kepada kaum perempuan dalam aspek ekonomi.

“Kita mengadakan Bimtek pangan lokal berbasis olahan kelor. Tidak hanya dikonsumsi begitu saja di rumaj, tepai bisa diolah menjadi lebih menarik seperti cemilan dan jajanan untuk menjadi nilai tambah,” tuturnya.

Baca Juga :  Pangdam IX/Udayana tinjau Baksos HUT TNI 2019

Kemudian, di bidang keterampilan juga digelar Bimtek tenun ikat untuk menjadi aksesoris yang memberi nilai tambah bagi ibu-ibu. Karena ke depan akan terbuka peluang pasar yang besar.

“Kita tahu di NTT pariwisata menjadi yang utama sebagai penggerak ekonomi. Kami percaya bahwa secara angka 60 persen UMKM yang berkembang dikembangkan oleh kaum perempuan. Hal itu berarti kaum perempuan mempunyai daya upaya yang lebih tinggi. Ketika mengenal jasa keuangan maka akan mampu memanfaatkan dengan baik dan bisa merencanakan secara bijaksana setidak-tidaknya untuk usaha produktif,” terangnya.

Para perempuan, lanjutnya, bisa merencanakan jasa keuangan bukan untuk konsumtif tetapi untuk produktif sehingga bisa memberi manfaat yang besar.

Ia berharap dengan ini bisa memberi ruang yang besar kepada kaum perempuan, agar terus berbenah diri dan meningkatkan kemampuan dirinya untuk bersaing.(lya/eho)

Comments

comments