Pemantauan Pasar Oleh TPID Harus Dilakukan Secara Reguler

0
1605

Kupang — Fungsi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten/Kota tidak boleh hanya dilakukan menjelang hari raya keagamaan saja, tapi harus dilaksanakan secara regular.

“TPID harus terus diaktifkan dengan melakuan pemantauan pasar secara berkala,” kata Gubernur NTT Frans Lebu Raya pada kegiatan High Level Meeting TPID se-NTT di Kupang, Senin (9/4/2018).

Selama ini menurut Gubernur Lebu Raya, pemantauan pasar hanya dilakukan menjelang hari besar keagamaan, padahal pemantauan pasar sangat penting dilakukan secara terus menerus guna menentukan perlu tidaknya digelar operasi pasar.

Operasi pasar katanya tidak boleh dilakukan hanya pada saat harga berbagai kebutuhan pokok naik, sebab apabila telah terjadi kenaikan harga di pasaran maka harga sulit untuk diturunkan lagi.

Selama empat tahun terakhir, TPID telah berhasil meredam laju inflasi sehingga pertumbuhan ekonomi NTT selalu berada di atas pertumbuhan rata-rata nasional. “Tingkat inflasi pun cenderung berada di bawah rata-rata inflasi nasional karena adanya koordinasi antara TPID Provinsi maupun Kabupaten/Kota,” ungkap gubernur.

Senada dengan Gubernur, Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT, Naek Tigor Sinaga menyatakan, selama empat tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi NTT terus menunjukkan tren positif. Pada tahun 2017, pertumbuhan ekonomi NTT sebesar 5,16 persen, berada di atas rata-rata nasional yang mencapai 5,07 persen. Namun diakuinya, tantangan ekonomi NTT selama ini adalah menyeimbangkan neraca perdagangan antara nilai ekspor dan nilai impor.

Baca Juga :  Dispendukcapil Kota Kupang Bakal Kesulitan Maksimalkan Pelayanan

“Nilai ekspor NTT pada Tahun 2017 lebih kecil yakni hanya sekitar Rp 6,4 triliun jika dibandingkan dengan nilai impor yang mencapai Rp. 52,5 triliun.” jelasnya.

Nilai impor yang besar disumbang oleh bahan makanan jadi, bahan konstruksi, transportasi, sandang dan energi sehingga ada peluang untuk menyeimbangkan neraca perdagangan sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Kepala BPS Provinsi NTT,Mariatje Pattiwaellapia menyatakan, kecenderungan inflasi di NTT terus menurun dan berada di bawah rata-rata nasional. “Tahun 2017, inflasi kita hanya sekitar 2 persen, di bawah rata-rata nasional sebesar 3,61 persen. Pada triwulan pertama tahun 2018, tren ini terus bertahan. Bahkan pada bulan Maret, kita mengalami deflasi sebesar 0,43 persen.” jelasnya.

Menurut Maritje, ada kemungkinan di bulan April ini, potensi deflasi masih besar. Sementara bulan Mei, ada potensi kenaikan karena memasuki masa puasa bagi umat muslim. Oleh sebab itu perlu ditingkatkan koordinasi antara TPID provinsi dengan Kabupaten/Kota.

“Khusus untuk komoditi beras, ikan, telur ayam dan bahan makanan lainnya serta tarif angkutan udara, harus terus dijaga kestabilan harga karena berpotensi menyumbangkan inflasi,” jelas Maritje.

Baca Juga :  Wawali Pantau Posko Pencegahan Covid-19 di Perbatasan

Sementara itu, Kepala Bulog Divre NTT, Efdal Marilius Sulaiman menjamin stok beras untuk 3,6 bulan ke depan masih aman, selain ada penambahan stok beras yang sedang dalam perjalanan ke NTT.

Bagi Bulog, pendistribusian Bantuan Sosial Beras Sejahtera Bansos Rastra) juga sangat mempengaruhi stok beras di NTT karena Rastra merupakan bentuk operasi pasar terbesar dari Bulog. “Bila distribusi lancar, maka operasi pasar juga akan semakin sedikit,” jelasnya. (lya/qi)

Comments

comments