Perayaan Hari Lahir Rote Ndao Harus Merujuk pada Undang-Undang

0
306

KIBLATNTT.COM, BAA — Benarkah Kabupaten Rote Ndao Di mekarkan Tgl 2 Juli 2002? Salah sesungguhnya 10 April 2002 Berikut Penjelasan Bapak Sodi Lian Sekretaris Panitia Jakarta untuk Perjuangan Pembentukan Kabupaten Rote Ndao
Sebenarnya Tahun 1958 ada kesempatan kesempatan Emas untuk Rote Ndao dan Sabu Raijua berhimpun menjadi satu kabupaten

Tetapi lewat begitu saja karena masing-masing ribut soal ibu kota apakah di Baa atau Seba, akibatnya semua bergabung jadi Kabupaten Kupang, sedangkan khusus Rote Ndao diberi Status sebagai Wilayah Pembantu Bupati Kupang sama seperti Lembata menjadi Wilayah Pembantu Bupati Flores Timur.

Selama 39 Tahun Masyarakat Rote Ndao tidak putus asa, Ketika mendengar Lembata sudah dimekarkan oleh pemerintah Pusat, Api perjuangan itu berkobar lebih hebat.

Saya teringat malam hari tanggal 7 Oktober 1997 tepat Hari Pernikahan adik bungsu saya Carly Lian dengan Putrinya pak Frans Taek di Baa, pak Benyamin Mesakh memberi kata kata nasihatnya orang tua.

Begitu Usai acara ramah tamah beliau (Benyamin Mesak) menarik saya ke pojok tenda dan meminta dengan serius agar saya membantu memperjuangkan aspirasi masyarakat untuk pembentukan Kabupaten Rote Ndao.

Saat itu saya mengajak bagi tugas, Saya meminta pak Pembantu Bupati kumpulkan tanda tangan Para tokoh tokoh masyarakat sebagai lampiran dokumen permohonan pembentukan Kabupaten Rote Ndao kepada pemerintah Pusat tembusan kepada Bupati Kupang dan Gubernur NTT.

Saya dan keluarga bertolak ke Kupang Sebelum lanjut terbang ke Jakarta Saya bertemu dua tokoh penting yaitu Pak Hermanus yang waktu itu menjadi SEKDA NTT dan beliau menganjurkan yang sama agar segera bentuk panitia di Rote Kupang dan Jakarta.

DI hari yang sama saya bertemu juga dengan pak Mel Adu Anggota PRRD Propinsi NTT.

Pak Mel dengan serius menyatakan kesediaan untuk membentuk Panitia di Kupang dan saya berjanji akan berusaha membentuk Panitia di Jakarta. Dalam waktu singkat terbentuklah panitia di Rote diketuai Hakim S Panie, SEKRETARIS ML Henukh dan Bendahara S Henukh.

Panitia di Kupang diketuai pak Mel Adu, Sekretaris Ansel Soru dan Bendahara Markus Ndun.

Di Jakarta terbentuk Panitia diketuai Jenderal Benny Balukh waktu itu Ketua KOMISI V DPR RI, Sekretaris Saya (Sodi Lian) sedang kuliah program S2 di Institut Ilmu Pemerintahan dan Bendahara ECW Neloe.

Para Sesepuh Rote yang lainya duduk sebagai penasihat Masing masing JN Manafe. Anggota DPR RI, Anton Adi Mantan Bupati Kupang, Pengusaha Nasional Agus Tupu dan Yusuf Meruk, Dokter Pelokilla dan Dr Mboeik, Rohaniwan Petrus Oktavianus, David Fanggidae dan Alfaris Lian, Ir. Saudale, dan dari Thailand bergabung pula Adrianus Mooy mantan Gubernur BI dan Pengusaha Muda Yes Pella.

Selain itu dibentuk pula Tim Penyusun draf Propasal usulan Pembentukan Kabupaten Rote Ndao terdiri dari Pegawai Tugas Belajar dari NTT yang sedang menyelesaikan S2 di IIP, Domi Bandi sekarang Pejabat di Bappeda Sumba Timur El Ndun, Kepala Dinas PPMD Nagekeo, Ren Dano. Camat di Kab Kupang, Lery Rupidara Kepala Biro di Kantor Gubernur NTT.

Baca Juga :  KPP Pratama Kupang Kunjungi Panti Asuhan Aisyiyah Kupang

Ada juga putra NTT yang bukan Orang Rote tapi ikut berjuang di antaranya Kris Praing Kadispenduk Sumba Timur, Imanuel Ani Kadisnakersos Sumba Barat serta Beny Ngalu pejabat di Pemda Belu.

Generasi Muda yang berbagi peran duduk mendukung Panitia antara lain :Sofy Nggebu, Pace Djo, Chemsye Lian, Yep Ndolu, Esa Nggebu Jhoni Pena, Yos Nggebu Yani Nggebu, John Seme, Yos Rote,(Yos Sanu) Alfred Messah, dan lainnya.

Meskipun Panitia sudah terbentuk tapi pecahnya gelombang demonstrasi Reformasi di Tahun 1998 membuat perjuangan ini senyap sementara.

Setelah gelombang Reformasi mereda dan Pemerintahan Reformasi tertentu di bawah Gus Dur dan Mbak Mega perjuangan dilanjutkan kembali.

Tadinya rapat rapat perjuangan berlangsung di petakan betawi tempat kos saya sekarang sudah berpindah dari hotel ke hotel gedung ke gedung karena para sesepuh turun tangan.

Tadinya kami urunan beli nasi bungkus dan berjuang dengan mobil Sumbangan Yes Pella ,Sofy Nggebu, dan John Seme ,serta Vespa Tua milik saya sambil makan di pinggir jalan sekarang mulai berubah mengunakan Volvo dan Mercy punya Agus Tupu dan Yusuf Meruk sambil makan di Restoran Restoran mewah! Sangat Luar biasa Tuhan sunguh Baik.

Pada saat yang sama Bupati Kupang Waktu itu Pak Ibrahim Agustinus Medah yang akrab dipanggil pak Iban adalah seorang politisi senior yang brilian sangat matang, beliau begitu hati hati dan sama sekali tidak gegabah sedikitpun dalam merespon api perjuangan ini.

Bahkan untuk memastikan bahwa perjuangan ini serius beliau dengan piawai melempar pertanyaan menggeltik di media “Apakah orang yang berjuang untuk Rote jadi kabupaten ini tidak sedang mabuk?”

Sontak Pertanyaan Iban Medah yang cerdas itu membuat semua pejuang kebakaran jenggot marah,mengkal, kecewa ,panik, fulstrasi ,campur aduk menjadi satu.

Keadaan menjadi genting, betapa tidak, karena semua sadar sehebat apapun nyala api perjuangan di Rote Kupang dan Jakarta hanya menemui kehampaan kalau syarat prinsip rekomendasi dukungan dan legal proposal usulan pembentukkan Kabupaten Rote Ndao tidak ditandatangani oleh Bupati Kupang Iban Medah dan Ketua DPRD Kabupaten Kupang waktu itu Ruben Funay.

Para panitia Jakarta kembali gelar rapat di Hotel Kemang dan Ketua Panitia Jakarta Jenderal Benyamin Balukh didampingi Ren Dano, diutus berangkat ke Kupang untuk menjelaskan kepada Iban Medah betapa panitia Jakarta sudah siap untuk mendukung perjuangan Pembentukan Kabupaten Rote Ndao.

Puji Tuhan Iban Medah akhirnya yakin bahwa perjuangan ini serius bertepatan dengan momentum merebaknya semangat Otonomi Daerah di seluruh Nusantara.

Bupati Iban Medah bergerak cepat didukung sepenuhnya oleh seluruh Anggota Dewan Kabupaten Kupang Sekda, Kepala Badan dan Dinas terkait bahu membahu memenuhi segala persyaratan yang dibutuhkan.

Saya merapat ke Kupang bertemu Kabag Pemerintahan Kabupaten Kupang Sony Said, untuk pemaduan data sehingga draf proposal usulan bisa tersusun rapi.

Tetapi ketika disampaikan ke pusat proposai tersebut tersendat lumayan lama di Kementerian Otonomi Daerah karena pada saat itu mulai diberlakukan PP no 129 tentang Syarat Syarat pembentukan dan Kriteria Pemekaran, penghapusan dan penggabungan Kabupaten.

Baca Juga :  Gugus Tugas Covid-19 Provinsi NTT Kembali Umumkan Tambahan 9 Kasus Positif

Saya menghadap Menteri Otonomi Daerah Ryas Rasyid di kantor Kebon Sirih meminta nasihat dan beliau menyerahkan copy dokumen PP 129 Tahun 2000 tersebut sambil menasihati supaya segera berangkat ke Kupang dan kerja cepat menyiapkan seluruh persyaratan yang ditetapkan dalam PP yang baru ini.

Saat itu juga saya telepon Pak Iban Medah yang sedang berada di Surabaya mendampingi ibu Ance Medah Amallo yang sedang menderita sakit.

Beliau menyarankan sebaiknya saya ke Surabaya biar nanti para pejabat terkait di Kabupaten Kupang merapat bertemu saya untuk menyelesaikan semua urusan penyusunan legal proposal dan rekomendasi di Surabaya saja.

Tetapi saya menolak dengan alasan bahwa kriteria yang dipersyarakan untuk susun proposal membutuhkan data otentik dan perhitungan statistik sehingga lebih efektif kalau saya turun langsung ke Kantor Bupati Kupang. Lain dari itu saya harus meminta tandatangan rekomendasi Gubernur NTT, Piet A Tallo dan Ketua DPRD NTT,
Danial Wodapale serta Ketua DPRD Kabupaten Kupang pak Ruben Funay.

Tiba di Kantor Bupati Kupang, saya bertemu Sekda Nabas Njurumana, Asisten Christian Nehemia Dillakh. Kepala Badan Statistik Kupang, serta Kepala Bagian Pemerintahan yang baru saja menggantikan Sony Said yaitu Muhamad Idin Mantan Camat Rote Timur.

Dalam waktu dua hari seluruh dokumen sudah selesai, saya ke Kantor Gubernur didampingi Mel Adu tak sampai satu jam, rekomendasi sudah ditandatangani oleh gubernur dan Ketua DPRD Provinsi NTT.

Minggu pagi saya mampir di rumah Ketua DPRD Kabupaten Kupang, Ruben Funay untuk minta tanda tangan beliau saya pamit dengan kalungan selimut Timor yang manis dari ibu Funay.

Sehabis ibadah Minggu sore di Kupang, saya langsung terbang ke Surabaya bertemu Bupati Kupang, Ibrahim Agustinus Medah yang membawahi Wilayah Pembantu Bupati Rote Ndao menandatangani seluruh dokumen tersebut dan tepat jam 11 malam saya pamit langsung menuju Bandara.

Besok paginya seluruh dokumen pembentukan Kabupaten Rote Ndao sudah saya serahkan langsung ke Tangan Menteri Otonomi Daerah Ryaas Rasyid.
Hubungan Emosional saya dengan pak Ryaas cukup mendalam karena ketika Beliau menjadi Rektor IIP, saya adalah ketua Senat Mahasiswa, beliau juga pembimbing dan pemotor saya sejak di Program S1 dan Magister Institut Ilmu Politik. Kami terlibat dalam banyak diskusi formal dan informal.

Saya gugah hatinya saya bilang hadiah sepanjang masa yang saya minta dari bapak adalah persembahkanlah kepada kaum keluarga di tempat kampung kelahiran saya sebuah kabupaten yaitu Kabupaten Rote Ndao sebagai pagar selatan Nusantara.

Dalam waktu relatif singkat dokumen usulan Kabupaten Rote Ndao sudah sampai di Senayan, yaitu Komisi II DPR RI yang diketuai Ferry Mulsidan Badan.

Untuk menguji kelayakan proposal dibentuklah dewan pakar yang direkrut dari para Guru Besar Perguruan Tinggi dan berhimpun di Hotel Wisata Kebun Kacang Jakarta Pusat.

Baca Juga :  NTT Jadi Contoh Kehidupan Bertoleransi di Indonesia

Hari itu Bupati Kupang Ibrahim Agustinus Medah tampil begitu prima dan dengan kecerdasan yang tidak biasa mempertahankan poposal pembentukan Kabupaten Rote Ndao di hadapan dewan pakar. Hasilnya dalam sidang yang dipimpin oleh pak Guritno di Ruang Sidang DPR RI Senayan Jakarta pada tanggal 10 April 2002 diketuklah palu Rote Ndao menjadi kabupaten.

Hari Itu Tanggal 10 April 2002 seluruh pejuang dari panitia Rote, Kupang dan Jakarta serta masyarakat perantauan Rote Ndao se-Jabodetabek bersama Bupati Kupang dan para sesepuh merayakan hari sukacita tersebut dengan ibadah syukur di Hotel Kemang.

Sofy Nggebu Ketua Yayasan Putri Mata Air mengemas acara syukuran tersebut dengan nuansa adat budaya Rote, Firman Tuhan disampaikan oleh Pendeta Jans Jeferson. Bupati Iban Medah menyampaikan Pidato yang disambut dengan tepuk tangan gemuruh.

TERBITLAH UNDANG UNDANG NOMOR 9 Tahun 2002 TANGGAL 10 APRIL 2002 yang ditandatangani PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEGAWATI SUKARNO PUTRI
dan dinyatakan berlaku pada saat yang sama.

Ketika saya dan El Ndun menjemput Dokumen Resmi Undang Undang No 9 Tahun 2002 itu di Sekretariat Perundang undangan 2 Setneg Medan Merdeka Udara tangan kami gemetar mencium dokumen bersejarah itu sambil meneteskan air mata.

Bagaimana dengan Fenomena Hari Ulang Tahun Kabupaten Rote NDAO yang dirayakan pada tanggal 2 Juli?
Sebenarnya Tanggal 2 Juli 2002 itu adalah Tanggal Pelantikan Christian Nehemia Dillakh menjadi PLT Bupati Rote Ndao.

Tanggal 2 Juli 2002 itu Gubernur Piet Tallo dan para Pejabat Propinsi, Bupati Iban Medah dan Pejabat Kabupaten Hadir. Panitia Kupang dan orang Rote di Kupang turun berame rame. Dari Panitia Jakarta saya bersama Pak Agus Tupu, Yes Pella, Sofy Nggebu, Lerry Rupidara Yos Rote Obbie Messakh ikut hadir di Baa. Belum pernah saya melihat pesta semeriah itu di Rote.

Semua orang termasuk Pak Tian Dillak tidak menyadari bahwa tanggal 2 Juli itu adalah tanggal Pelantikan PLT Bupati Rote Ndao.

Dasar Hukumnya adalah SK menteri sedangkan Kabupaten Rote Ndao sudah sah lahir sebelumnya yaitu tepat tanggal 10 April 2002 saat diterbitkannya Undang Undang No 9 Tahun 2002 yang ditandatangani Presiden RI.

Kerena itu pada beberapa kesempatan saya selalu katakan dan dalam sambutan pada acara syukuran pelantikan Carly Lian sebagai anggota DPRD Rote Ndao, saya serukan untuk meluruskan kembali cerita sejarah terbentuknya Kabupaten Rote Ndao yang sesungguhnya! Mulai Tahun 2020 apa susahnya kalau perayaan ulang tahun pembentukan Kabupaten Rote Ndao diselenggarakan pada Tanggal 10 April.

Tak ada yang perlu disalahkan.
Alm Pak Christian Nehemia Dillak hanya merujuk meriahnya pesta tanggal 2 July jadi terus melaju dengan tanggal itu selama tujuh tahun masa pemerintahannya.

Leonard Haning Mantan Bupati Dua Periode, melanjutkan selama 10 Tahun masa pemerintahannya.

Dan kini Ibu Paulina Bullu Haning sudah sempat merayakan satu kali perayaan. Kita perlu mengingatkan jangan sampai keterusan sampai akhir masa jabatannya sama seperti pendahulunya lagi oleh karena itu mari kita luruskan(AL/Lya)

Comments

comments