Wagub NTT Harap Kompetensi Basarnas Terus Ditingkatkan

0
28

Kupang — Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nai Soi, meminta segenap petugas SAR untuk meningkatkan kemampuan fisik maupun kompetensinya. Tujuan Search And Rescue (SAR) menurut Undang-Undang Nomor 29 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan adalah bukan menghilangkan kecelakaan, tetapi terutama mengurangi kefatalan dari kecelakaan.

“Petugas SAR adalah manusia setengah dewa yang bertugas menyelamatkan nyawa manusia. Keterampilan yang dimiliki anak-anak SAR harus lebih dari orang yang ditolong bahkan manusia lainnya. Harus bisa menyelam tanpa ada alat, juga harus bisa terbang dalam arti meloncat untuk bantu orang. Itu luar biasa, butuh latihan yang tekun,” jelas Wagub dalam kegiatan Rakor Pencarian dan Pertolongan Kantor SAR Kelas A Kupang di Hotel Neo Aston, Senin (29/7).

Menurut Wagub Nae Soi, upaya penyelamatan sangat bergantung pada sumberdaya manusia yang dimiliki Badan SAR. Syarat mutlak seorang petugas SAR adalah memiliki fisik prima, sehat jasmani dan rohani serta punya kompetensi.

“Kerja SAR itu, satu kakinya adalah menjadi juga calon almarhum. Dia menyelamatkan orang, belum tentu dia sendiri bisa selamat. Tapi prioritas utamanya adalah menyelamatkan orang lain terlebih dahulu. Kalau mau menyelamatkan, fisik kita harus prima. Saudara-saudara harus siap 2 kali 24 jam. Bila perlu kalau waktu ditambah 36 jam, 36 jam harus siap. Karena waktu kecelakaan tidak bisa kita duga,” jelas mantan anggota Komisi V DPR RI itu.

Baca Juga :  Masyarakat Diharapkan Menjaga Kesehatan Lingkungan

Lebih lanjut, Nai Soi mengharapkan agar kompetensi khususnya keterampilan anak-anak SAR mesti terus ditingkatkan. Sebelum menyadarkan masyarakat akan pentingnya keselamatan, petugas SAR harus terlebih dahulu menyadari pentingnya keselamatan diri, bukan sekadar rutininitas jika ada bencana.

“Jangan sampai loncat dari kapal dengan kaki rapat, terjun ke bawah mau bantu orang, tapi kedua kakinya patah. Semua keterampilan wajib diketahui oleh anak-anak SAR. Begitupun juga dengan di udara, saat gedung rubuh atau gempa bumi,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Operasi Badan SAR Nasional (Basarnas) Brigjen (Mar) Budi Purnama dalam arahannya mengatakan seturut amanat UU Nomor 29 tersebut, Basarnas memiliki tugas pokok untuk laksanakan pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan transportasi. Namun karena ada panggilan tugas lain yang berkaitan dengan pencarian dan pertolongan, maka kita juga ikut terlibat dalam kecelakaan dengan penanganan khusus. Artinya kecelakaan tersebut merupakan kecelakaan berat.

“Basarnas juga terlibat dalam penanganan bencana terutama kebencanaan dalam tanggap darurat. Kita bersama potensi penanggulangan bencana lainnya seperti TNI/Polri dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau BPBD di daerah sebagai leading sector juga berupaya membantu korban yang terperangkap. Petugas SAR juga punya kewajiban menolong kecelakaan yang membahayakan jiwa manusia seperti kebakaran atau orang terperangkap dalam sumur. Silahkan hubungi call center Basarnas 115,” ungkap Budi Purnama.

Baca Juga :  Groundbreaking Jembatan Pancasila 1 Juni 2018

Lebih lanjut Budi menjelaskan, Basarnas membutuhkan kolaborasi dengan potensi penanganan kecelakaan dan bencana lainnya. Karena secara personil dan material, Basarnas masih sangat terbatas. Sampai dengan bulan Juni 2019, masih di angka 32 persen, jauh dari ideal yang diharapkan.

Dalam kesempatan itu, Budi Purnama juga menyinggung tentang rendahnya penggunaan alat deteksi sinyal marabahaya pada sarana transportasi udara dan laut. Alat tersebut akan memancarkan dan memantulkan signal dengan frekuensi 406 mega hertz ke satelit.

“Alat ini sangat penting agar petugas Basarnas dapat cepat sampai ke lokasi dengan cepat dan tepat. Populasi pengguna alat ini masih sangat rendah. Khusus untuk maskapai penerbangan, semuanya sudah memasang alat tersebut. Sementara untuk kapal laut, masih sangat rendah. Semestinya, kapal di atas 30 GT wajib memasang alat ini. Sampai saat ini, baru ada sekitar 300 kapal yang memakai alat ini. Penggunaan alat ini memudahkan Basarnas di seluruh Indonesia dapat mengetahui posisi pasti kapal yang sedang dalam bahaya,” jelas Budi Purnama.

Baca Juga :  Telkomsel Beri Aneka Bantuan Bagi Para Korban Gempa

Rakor Pencarian dan Pertolongan Tahun 2019 tersebut dirangkai dengan kegiatan pelatihan SAR Beregu dan pelatihan Pertolongan Bangunan Runtuh. Pelatihan SAR beregu diikuiti 50 orang dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 29 sampai 31 Juli di Dermaga Navigasi Kupang.

Sementara untuk Pelatihan Pertolongan Bangunan Runtuh dengan jumlah peserta 60 orang dilaksanakan di Kantor SAR Kupang selama 5 hari dari tanggal 29 Juli sampai dengan 2 Agustus. Pelatihan ini diikuti peserta dari Kementerian/Lembaga, TNI/Polri, Instansi Potensi SAR, Organisasi Non Pemerintah dan Basarnas. (lya)

Comments

comments